Menelusuri Keindahan Pelaruga, Air terjun Tongkat, dan Sungai Abadi

Hidden Paradise : Pelaruga

”Perjalanan adalah kekuatan, kekuatan untuk berani memulai dan meninggalkan zona nyaman kita.

Ada begitu banyak tempat wisata yang ada di Sumatera Utara, baik yang terkenal sampai mancanegara maupun yang hanya terkenal di kalangan masyarakat Sumatera Utara. Salah satunya adalah Jungle Tracking Pelaruga. Kenapa dinamakan Jungle Tracking? Jungle Tracking yang berarti mendaki atau menelusuri hutan merupakan istilah ‘keren’ dari tempat wisata Pelaruga, dikarenakan untuk mencapai lokasi tersebut kita harus melakukan Tracking naik turun bukit. Untuk itu disarankan buat menyiapkan stamina ekstra dan harus dalam kondisi yang fit. Oleh karena itu objek wisata ini tidak di rekomendasikan untuk anak-anak dan lansia. Menantang bukan? 

Pelaruga sebenarnya bukan nama tempat wisata, melainkan nama komunitas yang berdiri di Desa Rumah Galuh. Pemandu Alam Rumah Galuh atau yang disingkat ‘Pelaruga’ merupakan komunitas yang ada di Desa Rumah Galuh yang bertujuan untuk melestarikan alam yang ada di Desa Rumah Galuh. Tetapi, sebagian besar masyarakat Sumatera Utara mengenal tempat ini dengan nama Pelaruga. Desa Rumah Galuh sendiri terletak di Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

****

Ujian Tengah Semester di kampus gue baru aja selesai. Gue dan temen-temen kampus gue memutuskan untuk berlibur bersama. Setelah melakukan Rapat Paripurna (udah kaya DPR aja), kami pun menjatuhkan pilihan untuk melakukan perjalanan ke Pelaruga. Gue dan temen – temen berencana untuk kumpul di salah satu mall terbesar di kota Binjai, Binjai Super Mall pada pukul 9 pagi.Rute yang akan kami gunakan yaitu dari Medan – Binjai – Namuukur Pekan – Desa Rumah Galuh. Waktu tempuhnya kurang lebih sekitar 3 Jam. Pada perjalanan kali ini, gue dan temen-temen gue menggunakan motor sebagai sarana transportasi menuju Pelaruga. Apabila ingin menggunakan transportasi umum, dari Medan kita harus naik angkot menuju Terminal Pinang Baris kemudian naik angkot menuju Binjai dengan biaya kurang lebih Rp.8.000/org (Tarif sewaktu waktu dapat berubah). Setelah sampai di Binjai, kita harus naik angkot menuju Pasar Bawah dengan biaya kurang lebih Rp.3.000/org (Tarif juga sewaktu waktu dapat berubah). Dari Pasar Bawah, kita masih harus menaiki angkot jenis L300 yang merupakan kendaraan terakhir menuju Desa Rumah Galuh dengan tarif Rp.10.000/org (Tarif dapat berubah). #SekedarInfo

*****

Tepat pukul 9 pagi, gue dan temen temen udah pada kumpul di Binjai Super Mall sesuai dengan kesepakatan bersama beberapa hari lalu. 5 orang…Ternyata hanya 5 orang yang akan melakukan perjalanan ini, namun semangat untuk melakukan perjalanan gak akan berkurang. Ternyata, salah seorang guide (pemandu) udah menawarkan jasanya pada kami untuk memandu menuju Pelaruga. Setelah menentukan lokasi mana yang akan di datangi dan besarnya budget, kami pun memulai perjalanan menuju Pelaruga (uda gak sabarrrrr!!). Guide tersebut menawarkan paket 3 tempat sekaligus yaitu Air Terjun Teroh Teroh, Air Terjun Tongkat, dan Kolam Abadi dengan budget Rp.50.000/org. Gue dan temen-temen gue memilih untuk hanya mengunjungi 2 tempat yaitu Air Terjun Tongkat dan Kolam Abadi dengan pertimbangan keterbatasan waktu dan resiko kelelahan. Untuk 2 tempat itu, kami hanya dikenakan biaya sebesar Rp.30.000/org.

“A journey of a thousand miles begins with a single step.” (Lao Tzu).
                        Air Terjun Teroh Teroh merupakan salah satu Air Terjun yang ada di dalam hutan Desa Rumah Galuh. Teroh Teroh yang berarti bawah bawah’ dalam bahasa karo adalah Air Terjun yang berasal dari Sungai Abadi yang mengalir di Desa Rumah Galuh. Air Terjun ini mempunyai jenis dan tinggi yang berbeda dengan Air Terjun Tongkat. Untuk dapat mencapai Air Terjun Teroh Teroh, kita harus Tracking melalui hutan dan naik-turun bukit. Waktu yang dibutuhkan kurang lebih sekitar 1 jam. Tetapi untuk dapat menghemat tenaga, kita dapat melakukan Body Rafting dari Kolam Abadi  dengan menggunakan pelampung. Menurut guide, Air Terjun ini terletak paling bawah dan tersembunyi diantara bukit. Air Terjun ini memiliki air yang jernih dan berwarna kebiru-biruan, dan juga terdapat dahan pohon yang bisa digunakan untuk spot foto. Sayang gue dan temen temen gue gak berkesempatan melakukan perjalanan ke Air Terjun Teroh Teroh dikarenakan keterbatasan waktu. (Ah sudahlahhhh).
“it’s good to have an end to journey toward; but it is the journey that matters, in the end.” (Ernest Hemingway).                          Singkat cerita, gue dan komplotan (cielah, komplotan) sampai juga di pos Pelaruga (Ohya, menurut gue kondisi jalan menuju ketempat ini terpantau cukup bagus #sekedarinfo). Di pos ini gue dan temen-temen gue memarkirkan kendaraan dan menyimpan barang barang yang gak terlalu penting untuk dibawa kedalam. Setelah mengganti pakaian yang nyaman untuk Tracking, gue dan komplotan gue mendapat arahan dari guide tentang apa yang harus dilakukan sewaktu Tracking. Setelah gue cermati dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya (uda kaya proklamasi aja) intinya adalah guide mengingatkan medan yang akan kami hadapi, untuk itu guide meyakinkan kami apakah sanggup untuk melakukan perjalanan ini. Dan yang terpenting adalah guide menyuruh kami untuk tetap konsentrasi sewaktu melakukan Tracking dikarenakan medan yang terjal, berlumpur dan licin yang beresiko untuk terjatuh apabila kurang konsentrasi. Untuk itu, kita dapat menggunakan peralatan mendaki apabila ingin mempermudah, tetapi bagi sebagian orang termasuk gue, menggunakan peralatan mendaki seperti sepatu justru akan mempersulit dalam melakukan Tracking khususnya di tempat ini. (just my opinion). Oh iya, gue dan temen temen gue dapet dua orang temen baru yang ikut gabung dengan gue dan komplotan gue di perjalanan ini. Kemudian guide menyarankan kami untuk berdoa bersama sebelum melakukan perjalanan ini. (penting loh, beneran). Lanjuttttt

 
Gue dan temen-temen sebelum masuk ke hutan. (Gue yang paling kiri hehe)

Tujuan pertama gue dan komplotan gue adalah Air Terjun Tongkat. Untuk dapat mencapai tempat ini, kita membutuhkan waktu kurang lebih 1-2 jam. Cepat atau lamanya jarak tempuh tergantung dari berapa kali melakukan istirahat dan waktu mengabadikan momen (kalau udah banyak foto-foto, pasti lama sampainya). Menurut gue, medan yang di tempuh cukup menguras tenaga. Kita akan turun bukit, naik bukit, turun bukit, naik lagi (seakan-akan gak selesai selesai) belum lagi jalanan yang dilalui benar benar licin dikarenakan lumpur yang ada di sepanjang jalan (Hadehhhh). Jujur, gue sedikit menyesal dengan kunjungan gue ke tempat ini. Kenapa? Karena ini adalah perjalanan pertama gue ketempat ini (walaupun gue udah pernah sebelumnya tracking di hutan Bukit Lawang), tetapi medannya benar benar berbeda 180 derajat. Dan gue mengeluh dan sedikit menyesali melihat susahnya medan untuk mencapai Air Terjun ini (Perasaan ini selalu terjadi pada orang yang pertama kali datang ke tempat ini, menurut guide).

 
Gue dan temen-temen kampus gue (udah tau kan yang mana gue?)

Stop worrying about the potholes in the road and celebrate the journey.” (Fitzhugh Mullan).                     Ketika melakukan perjalanan menuju Air Terjun Tongkat, kita dapat melakukan istirahat di beberapa pos yang berdiri di tengah hutan, kalau tidak salah ada 3 Pos yang dapat kita singgahi di dalam hutan, tetapi hanya pos ke 2 yang menjual makanan dan minuman (jika ingin menikmati Air Nira asli, kita dapat membelinya di pos ke 2 ini). Untuk dapat sampai ke Air Terjun Tongkat memang memakan waktu dan tenaga ekstra dibandingkan dengan ke Air Terjun Teroh Teroh atau ke Kolam Abadi. So, kalau dinikmati, pasti akan terasa lebih mudah dan menyenangkan. (sok nasehatin).

 
Curam apa seram ini? T-T

“Travel teach how to see”. (Unknown)

 
Sebelum turun melalui tangga bambu.

Setelah menaiki bukit kemudian turun bukit, melewati aliran sungai (yang tentunya gak dalam), melewati hutan yang bener – bener masih asri, melewati jembatan yang hanya terbuat dari bambu yang diikatkan satu sama lain, melewati jalanan berlumpur yang bener bener licin. Akhirnya gue dan temen-temen gue sampai juga di pintu masuk terakhir sebelum sampai di Air Terjun Tongkat, yaitu tangga yang kata guide berjumlah sekitar 60 anak tangga (60? Hadehh) dan kemiringan dari tangga yang terbuat dari bambu ini sekitar 90 derajat. Yang gue pasti, tangga ini bener-bener ngebuat gue seakan-akan lagi menghadapi kematian (bener-bener uji nyali, seriusan).

 
Bersiap untuk turun.

Suara Air Terjun yang jatuh terasa sangat dekat, hal itu semakin menambah semangat gue buat cepet-cepet sampai di bawah. Tapi apa yang terjadi? Kaki gue mulai gemeteran, napas gue mulai gak teratur, dan yang pasti jantung gue deg-degan. Gue bisa membayangkan apa yang terjadi kalo gue ceroboh dan gak hati-hati ketika turun melalu anak tangga ini (Jlebb banget). Anak tangga yang hanya terbuat dari bambu ini terasa begitu berat untuk dilewati, bukan karena gue ragu dengan keamanannya, tetapi lebih kepada gue takut JATUH! Oh my god-___-
Akhirnya gue memilih giliran terakhir untuk turun. Gue perhatiin semua temen-temen gue yang turun kebawah, mereka bener-bener hati hati dalam menempatkan tangan dan kaki mereka, dan yang pasti mereka semua ngelihat ke ATAS. (Dengan ngelihat ke atas, gue rasa itu sedikit membantu untuk mengurangi rasa takut akan ketinggian dan resiko jatuh tadi).
“Turun ko tham” Teriak seorang temen gue yang uda sampai di bawah.
“Gue tawakal pada Allah SWT atas apa yang akan terjadi sama gue nanti, semoga gue selamat. Amiin” kata gue dalam hati.
Gue mulai memijakkan kaki ke anak tangga sambil tangan gue memegang erat kedua sisi yang ada di tangga ini. Tampaknya ini akan jadi perjalanan yang panjang. Singkat cerita gue mulai turun. Sesekali gue berhenti untuk sekedar melihat ke sekitar. Sebenernya gue tipe orang yang gak takut ketinggian, jadi gue bener bener menikmati pemandangan dari atas tangga ini. Sejauh mata memandang Air Terjun Tongkat mulai menunjukkan dirinya. Air Terjun setinggi kurang lebih 10-15 meter (belum gue ukur nih) siap menyambut gue. Di bawah Air Terjun ini terdapat dahan pohon besar yang menempel pada dinding tebing yang seakan-akan berdiri layaknya sebuah tongkat. Mungkin ini mengapa masyarakat Desa Rumah Galuh menamakannya demikian.
Setelah melalui perjuangan yang lumayan melelahkan, gue akhirnya menginjakkan kaki di tanah. Yap, tepat di hadapan gue sekarang ada sebuah Air Terjun yang bener bener tampak gagah. Air yang jatuh pada siang itu cukup deras dan menimbulkan percikan-percikan kecil di sekitarnya. Gue memutuskan untuk duduk dan istirahat disebuah batu besar yang ada di atas. Sedangkan temen-temen gue langsung turun ke bawah untuk menikmati dinginnya Air Terjun di siang yang cukup cerah dan terik. Karena Air Terjun ini ada di balik tebing, sinar matahari gak langsung jatuh ke sekitar Air Terjun, oleh karena itu suhu disekitar Air Terjun ini cukup dingin dan menusuk tulang tulang. (Ehem, masuk angin dahh).

 
Ignore my face! Liat latarnya aja wkwk

Setelah menikmati makan siang, gue memutuskan untuk mencoba langsung turun kebawah. Jlebbbbb.. sesuai perkiraan gue, airnya beneran dingin. Kedalaman dibawah Air Terjun ini kurang dari 1 meter, dan banyak terdapat batu – batu, yang berbahaya apabila ingin berenang. Airnya kurang jernih alias sedikit keruh, tetapi cukup bersih. Rasa lelah yang timbul akibat perjalanan sekejap hilang ketika menikmati salah satu ciptaan Allah SWT yang indah. Rasa syukur akan kesempatan dan waktu untuk dapat menikmati ciptaanNYA terus terucap dalam hati. (gue bener bener bersyukur bisa ketempat ini, hehe).
Enggak terasa gue dan temen temen gue udah lebih dari 1 jam ada di Air Terjun ini. Karena keasyikan menikmati Air Terjun, gue dan temen-temen gue sampai gak ingat waktu. (Ohya, untuk lambat atau cepatnya kita selesai menikmati Air Terjun ini tergantung dari keinginan kita, guide tidak membatasi atau memberi jangka waktu, asik kan?).
Matahari perlahan-lahan semakin bergerak ke arah barat, menandakan hari sudah menjelang sore. Gue dan temen-temen gue memutuskan untuk mengakhiri menikmati Air Terjun Tongkat ini. Dan yang bisa gue simpulkan adalah bahwa tempat ini memberikan kesan tersendiri bagi gue dengan segala kelebihan dan kekurangannya. (cielaaahhhh). Gue dan teman-teman gue enggak lupa mengabadikan beberapa momen saat kami di Air Terjun Tongkat. Setelah itu, kami pun kembali menaiki Tangga tadi. Tampaknya gue udah berhasil melawan rasa takut gue akan tangga ini, gue naik dengan mulus dan cepat.

 
Bukan Boyband! Sumpah dah!

Destinasi selanjutnya adalah Kolam Abadi. Kolam Abadi alias Sungai Abadi adalah sungai yang terdapat di kawasan hutan di Desa Rumah Galuh yang ‘katanya’ debit air pada sungai ini selalu tetap (abadi) walaupun lagi musim kemarau atau musim hujan. (Katanya loh, bukan kata gue). Makanya dinamakan Sungai Abadi, sedangkan Kolam Abadi  merupakan nama lain dari Sungai Abadi. Kolam Abadi sendiri merupakan salah satu tempat di bagian Sungai Abadi yang bentuknya seperti kolam yang arus di dalamnya begitu tenang layaknya sebuah Kolam. Di Kolam Abadi ini terdapat tebing-tebing disisi kiri dan kanan dengan pohon pohon yang lebat yang menutupi kolam ini dari sinar matahari. Di Kolam Abadi ini juga terdapat tebing untuk melakukan loncatan, kira kira setinggi 4-5 meter.
Gue dan temen-temen gue udah menaklukkan tangga tadi. Rasa lega pun terpancar di wajah gue dan temen-temen gue. Sekarang gue dan temen-temen gue akan melanjutkan perjalanan ke Kolam Abadi. Waktu yang dibutuhkan kurang lebih sekitar 1 jam. Jalur yang kami gunakan sama dengan jalur ketika kami akan menuju Air Terjun Tongkat dengan naik dan turun bukit dengan medan yang berlumpur dan licin. Pada perjalanan kali ini, gue merasa kalau tingkat kesulitannya udah berkurang, dan kamipun tidak terlalu banyak memakan waktu untuk istirahat. Kamipun sampai di destinasi kami yang terakhir, Kolam Abadi : Hidden Paradisenya Desa Rumah Galuh’.
Air sungai yang menabrak batu cukup menimbulkan suara yang terdengar sampai ke atas. Gue pun merasa kalau kami sudah sampai di Kolam Abadi. Guide bilang kalau kami harus menyebrangi sungai dan melawan arus untuk sampai ke tempat yang disebut Kolam Abadi. Satu per satu dari kami pun turun untuk melawan arus sungai yang tidak terlalu deras pada sore itu. Semakin ke tengah sungai, kedalamannya semakin meningkat, mungkin sekitar 3-4 meter (Perkiraan gue aja sih). Gue yang pada saat itu menggunakan pelampung, sedikit pun tidak merasa kesulitan untuk melawan arus sungai, begitupun dengan temen-temen gue yang lain.

 
View dari Kolam Abadi (Yang di sensor temen gue)

Finally, gue dan temen-temen gue sampai di Kolam Abadi yang arusnya tenang dan gak menghayutkan pastinya hehe. Gue cukup terkagum-kagum melihat sungai yang satu ini, bener bener berbeda 360 derajat dengan sungai yang ada di kota gue yang berwarna cokelat (ya jelas jauh bedalah-_-) atau kebanyakan sungai yang ada di Sumatera Utara, atau dengan sungai yang ada di Bukit Lawang. Sungai di Bukit Lawang sebenarnya memiliki air yang cukup jernih dengan warna sedikit hijau akibat lumut yang menempel pada batu di dasar sungai. Sedangkan Air pada Sungai Abadi berwarna kebiru-biruan dengan dasar sungai yang terdiri dari pasir dengan jumlah batu yang gak sebanyak sungai di Bukit Lawang. AWESOME!

 
Gue dengan latar sungai Bukit Lawang.

Kedalaman sungai ini bervariasi, mulai dari 1-5 meter. Ohya, seperti yang udah gue sebutkan di awal kalau di tempat ini juga terdapat tebing yang bisa digunakan untuk melakukan loncatan yang bisa memacu Adrenalin. Gue pun berkesempatan untuk mencoba loncat dari tebing kira kira setinggi 4-5 meter. Rasanya bener-bener gak bisa diungkapkan dengan kata-kata alias spechless (Ah sudahlah, nanti yang belum nyobain pada ngilerr, ups).“Travel brings power and love back into your life” (Rumi). So, masih tetep di zona nyamannya kamu? Eh?

 
Eaaaaaak🙂

Setelah menikmati asrinya hutan, dinginnya air terjun dan birunya sungai. Gue dan temen-temen gue pun mengakhiri perjalanan yang singkat, namun berkesan. One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.”Begitulah kata Henry Miller (seorang penulis dan pelukis asal Amerika Serikat). Beliau mengatakan kalau destinasi seseorang bukanlah suatu tempat, melainkan cara baru untuk melihat sesuatu. Yap, perjalanan ini mengajarkan gue satu hal, ”bahwa akhir yang indah, membutuhkan perjuangan untuk mencapainya”. Gue harus berjuang sebelum mencapai akhir dari perjuangan gue. Bisa aja ketika gue di tengah hutan dan gue merasa perjalanan ini sia-sia, kemudian gue berbalik arah dan membatalkan perjalanan ini, pastilah gue gak akan ketemu sama dinginnya air terjun dan birunya sungai. Dan pasti, gue gak punya pengalaman untuk ditulis dan diceritakan.

 
Numpang eksis boleh dong ya? Lol

Dan di akhir dari perjalanan ini, gue bener bener ngucapin terima kasih buat temen-temen kuliah gue yang udah bersedia jadi bagian dari perjalanan ini. Tapi, ‘Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun gue berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku’ ini adalah goresan kata-kata dari hasil gue melakukan perjalanan dengan sudut pandang gue. Gue juga ngucapin terima kasih banyak buat guide kita yang udah jadi kunci utama perjalanan ini, yaitu bang Agus. Dan tak lupa, gue bersyukur pada Allah SWT yang udah ngasih gue umur, kesehatan, kesempatan, keselamatan dan waktu untuk bisa menikmati ciptaanNYA.

 
Big thanks to bang Agus! (yang kiri)

Terkadang kita perlu menjauh, hanya untuk tahu maknanya pulang”.

sumber : http://thamrinhidayat.blogspot.com/2015/02/hidden-paradise-pelaruga_11.html

Categories: Wisata Sumut | Tags: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: