Ekowisata Mangrove Kampoeng Nipah kab. Sergei

20141206232247141788296854832d57f040e6

20141206232248141788296854832d580843a8

Tanaman Mangrove merupakan tanaman multi fungsi. Selain sebagai penahan abrasi, melalui tangan dingin warga Sei Nipah, buah dan daunnya bisa dijadikan panganan dan minuman dengan rasa khas mangrove.

Hutan Mangrove (Bakau) adalah

hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Pohon Mangrove tumbuh khususnya di tempat  terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu. Ekosistem hutan Mangrove bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya  abrasi  tanah;  salinitas  tanahnya  yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan mangrove karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.

20141206232247141788296854832d57d3df42

20141206232247141788296854832d57e94e65

Desa Sei Nagalawan yang terletak di Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai sebenarnya hanya desa biasa saja sebagaimana desa-desa lainnya di Indonesia. Tetapi berkat  tangan dingin yang diciptakan Tuhan bagi anak bangsa yang istimewa, maka suatu tempat bisa   menjadi lirikan banyak orang untuk melihat langsung apa sebenarnya yang ada di tempat itu dan apa karya anak bangsa di situ. Hasil kerja keras seseorang atau sekompok orang dapat menjadi suatu promosi untuk mengangkat nama tempat mereka berada.

Demikian yang dilakukan Jumiati (Perintis Kelompok Perempuan Nelayan Muara Tanjung Serdang Bedagai) dan suaminya yang telah menjadikan Desa Nagalawan menjadi desa yang dikenal di seluruh Indonesia dan mancanegara. Berkat kegigihannya berinovasi, dia pun menjadi seorang di antara tujuh perempuan peraih penghargaan dari organisasi nirlaba Inggeris, Oxfam, sebagai Pahlawan Pangan Perempuan (Female Food Heroes) Indonesia 2013. Inilah contoh pahlawan desa yang namanya  melanglangbuana sampai mendapatkan penghargaan demikian tinggi. Pada zaman ini sangat sedikit orang yang punya dedikasi tinggi seperti ini, memikirkan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Sangat bertolak belakang dengan kebanyakan petinggi negeri yang hanya tebar pesona pada saat-saat memerlukan masyarakat, tetapi pada saat masyarakat memerlukannya, mereka justru menghindar. Dalam menuntaskan program penanaman mangrove tentunya Jumiati tidak seorang diri, dia dibantu beberapa istri nelayan untuk mewujudkan cita-citanya.

 

Sewindu berlalu, mangrove seluas 12 Ha yang ditanam dalam empat tahap oleh Kelompok Tani mereka, sudah membentengi pesisir sepanjang pantai Desa Sei Nagalawan.Tanaman  tersebut telah menjelma menjadi hutan mangrove yang bisa dibanggakan. Pada saat penulis datang ke Lokasi mangrove ini ada beberapa orang sedang menangkap Kepiting Batu. Wah senang sekali kelihatannya mereka dan kita yang melihatnya juga merasa sangat bahagia karena mereka bisa mendapatkan kepiting begitu mudahnya, cukup diselah-selah akar pohon mangrove.

Ekowisata Mangrove Kampoeng Nipah

Ekowisata  adalah  kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya,serta aspek pendidikan. Kini pengelola kawasan hutan mangrove Nagalawan telah mengajukan kepada pemerintah tujuh hektar dari 12 ha hutan mangrove yang mereka lahirkan menjadi kawasan ekowisata. Mereka menyebut kawasan ini sebagai “Kampoeng Nipah.” Hal ini diharapkan dapat mendatangkan wisata sehingga bisa menambah penghasilan  keluarga nelayan dan mendapatkan keuntungan ekologis yaitu terhindar dari abrasi, angin kencang dan gelombang laut. Guna memastikan keberlangsungan hidup hutan mangrove para kelompok nelayan ini selalu menggelar acara gotong royong bersih-bersih sampah dan merapikan hutan mangrove ini.

Fungsi Tumbuhan Mangrove  

Salah satu fungsi utama hutan bakau atau mangrove adalah untuk melindungi garis pantai dari abrasi atau pengikisan, serta meredam gelombang.  Selain fungsi utama tersebut mangrove masih bisa di olah menjadi bermacam-macam panganan dan minuman. Seperti yang dilakukan  kelompok perempuan nelayan yang dipimpin Jumiati, mereka mendapatkan penghasilan tambahan bagi keluarganya dari usaha mengolah mangrove.  Mangrove Jeruju misalnya, bisa di olah menjadi  kerupuk dan teh.  Ketika penulis berkunjung, kelompok Ibu-Ibu sedang menggongseng daun mangrove yang telah dirajang kecil-kecil untuk di buat menjadi Teh  Mangrove. Teh ini menurut mereka bisa dijadikan sebagai obat asma. Dari buah mangrove jenis Pidada bisa di olah menjadi sirup. Dari jenis  Api-api bisa di olah menjadi dodol dan tepung kue. Dodol ini telah dipasarkan ke Pasar Bengkel Perbaungan untuk di jadikan oleh-oleh khas Serdang Bedagai.

Fasilitas yang Tersedia

Pada Hutan mangrove yang tujuh hektar tersebut, pengelola secara swadaya telah membangun jalan track dan jembatan papan seadanya  menelusuri pinggiran Sei Nipah. Dari jalur treking  yang mengintari Sei Nipah ini wisatawan dapat menikmati indahnya tanaman mangrove yang  dipadukan dengan air sungai yang sangat dekat dengan laut. Sehingga tiga objek pemandangan indah bisa sekaligus dinikmati yaitu Hutan mangrove, Sungai Nipah dan Pantai Nagalawan yang sangat menawan. Sutrisno yang juga menjadi Ketua Kelompok Konservasi sekaligus Ketua Koperasi Muara Baimbai bersama anggota kelompok lainnya juga telah membangun Homestay sederhana di areal Hutan Mangrove ini. Biaya menginap Rp.75 ribu/ malam dengan fasilitas TV dan kipas angin. Memang penginapan ini sangat sederhana tetapi ini adalah awal yang baik dan usaha yang perlu diacungi jempol. Hasilnya sejumlah organisasi mahasiswa di Sumut sudah mulai melirik dan menggunakan tempat tersebut untuk kegiatan mereka yang terkait dengan kegiatan di alam terbuka dan mempelajari mangrove. Tentu saja hal ini membawa keuntungan tambahan tersendiri bagi kelompok nelayan perempuan dan laki-laki yang dirintis oleh  dua sejoli  Jumiati dan Sutrisno,

Saran

Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di Kawasan Ekowisata “Kampoeng Nipah” maka perlu adanya beberapa petunjuk arah menuju ke kawasan ini agar para pengunjung tidak kesasar atau bertanya sana-sini. Mengenai homestay sebaiknya bisa di rehab/ diperindah sehingga minat pengunjung akan bertambah untuk menginap di tempat ini.  Demi kenyamanan pengunjung maka Lokasi Camping ground sebaiknya steril dari hewan-hewan melata.

Selamat berkunjung.

Categories: Wisata Sumut | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: