Pentingkah Ospek di Dunia Pendidikan?

Kegiatan ospek yang saat ini dilakukan pihak sekolah terkesan mengarah kepada unsur pemaksaan. Kenapa demikian ?

Musim penerimaan siswa dan mahasiswa baru telah dibuka dihampir setiap sekolah atau universitas, itu artinya musim ospek (plonco) pun akan dilaksanakan dan bahkan sudah dilaksanakan disebagian sekolah atau universitas. Kegiatan ospek seakan menjadi agenda wajib tahunan yang diadakan oleh pihak penyelenggara pendidikan yaitu sekolah atau universitas. Sejatinya kegiatan positif ini memiliki kesan baik dan mendidik bagi calon siswa/mahasiswa yang mengikutinya dan memberikan kesan baik bagi anak baru terhadap kakak kelasnya (seharusnya seperti itu). Dari beberapa pengalaman yang aku alami dan teman- temanku dan juga adik- adikku yang juga pernah merasakan kegiatan ospek, menanggapi negatif kegiatan ospek yang mereka ikut terlibat di dalamnya.

Berbagai komentar yang keluar dari mulut mereka, tidak ada satupun yang bisa membuat mereka bangga akankegiatan ospek. Kenapa? Mungkin apa yang aku pikirkan dari kegiatan ospek ini berbanding terbalik dengan apa yang kalian pikirkan. Secara pribadi aku tidak suka dengan sistem per-ospek-an di hampir sebagian besar institusi pendidikan di Negara ini. Semuanya sama, dan sama-sama menyusahkan.

Ospek yang seharusnya bertujuan untuk mengenalkan calon pelajarnya kepada lingkungan sekolah/universitas serta instansi di dalamnya, rasanya hal itu sudah tidak ada lagi. Kegiatan ospek yang saat ini dilakukan pihak sekolah terkesan mengarah kepada unsur pemaksaan. Kenapa demikian? Lihat saja betapa peserta ospek melakukan kegiatan ospek itu dengan rasa terpaksa dibatin mereka. Mereka dipaksa untuk membawa semua bekal yang disuruh seniornya untuk dibawa, sementara bekal itu mustahil untuk didapatkan. Seperti contoh, harus membawa buah jeruk yang berisi 15 ruas. Tentu untuk mencari itu sangatlah mustahil, bahkan seorang petani jeruk sekalipun tidak bisa memastikan ada berapa ruas yang ada didalam buah jeruk yang ia tanam. Kalau bekal yang diminta senior tidak dibawa atau tidak sesuai, sudah bisa dipastikan peserta ospek akan kena batunya. Padahal para senior itu sendiri belum tentu bisa mendapatkan hal-hal aneh seperti yang mereka minta.

Kelurga juga menjadi korban kalau bicara ospek, tidak hanya peserta saja yang merasakan efek pusing dan capek itu. Pihak keluarga lebih merasa pusing dengan permintaan yang aneh-aneh tadi. Biasanya, peserta ospek itu menjalani ospek sampai sore atau malam dan sudah mendapat arahan untuk membawa bekal keesokan harinya. Bekal yang aneh- aneh tentu sulit untuk dicari dimalam hari, walhasil satu rumah ikut kewalahan untuk memenuhi permintaan sang anak demi tidak mendapat hukuman oleh sang senior. Permintaan yang aneh-aneh dan banyak sudah pasti membutuhkan biaya. PENDIDIKAN ITU MAHAL BUNG. Benar pendidikan itu memang mahal, tapi tidak untuk kegiatan menghambur seperti ini.

Pasal tidak mengikat itu bullshit

Satu hal lain yang membuat aku tidak suka dengan kegiatan ospek adalah pasal tidak mengikat yang digunakan senior sebagai senjata andalannya.

Pasal 1 : Senior tidak pernah bersalah.

Pasal 2 Apabila senior bersalah, kembali ke pasal 1.

Pasal seperti apa ini? Secara tidak langsung pasal ini mengajarkan seseorang untuk menjadi seorang penguasa tanpa rasa manusiawi. Tidak ada orang yang ingin ditindas semena-mena, apalagi cuma dari seorang senior. Oke kalau memang melakukan kesalahan, itu wajib mendapat hukuman sebagai efek jera. Tapi jika senior yang melakukan kesalahan, apa dianggap tidak pernah bersalah? Peraturan darimana itu.

Seharusnya pasal picik ini harus direvisi menjadi,

Pasal 1 : Senior tidak pernah salah.

Pasal 2 : Apabila senior bersalah, mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Kalau seperti ini lebih berimbang antara senior dan juniornya. Mengakui kesalahan demi hubungan baik dengan adik kelas, lebih baik dari pada tidak mau mengakui kesalahan demi gengsi sebagai seorang senior.

kekejaman ospek

Ospek Bukan Seleksi Militer

 

Ospek bukan tempat adu kekuatan

Sejatinya kegiatan ospek itu menjadi moment yang tepat bagi para senior untuk memberikan contoh yang baik kepada juniornya. Masih jaman kah kekerasan di dunia pendidikan? Haruskah kegiatan ospek dinodai dengan kekerasan? Atau kalau tidak ada kekerasan bukan ospek namanya kali ya..!!!

Terkadang perselisihan pada saat ospek lebih banyak dimulai dari para senior, tapi karena gengsi sebagai senior, minta maaf pun enggan. Jangan samakan ospek seperti jalan raya untuk arena balap, mahasiswa/pelajar adalah kaum akademisi bukan kaum jalanan. Sudah saatnya paradigma ospek yang sudah membuat resah itu dirubah, ospek harus memberikan kesan baik dan menyenangkan bagi yang menjalaninya. Sudah saatnya pihak sekolah/universitas terjun langsung memantau kegiatan positif ini agar tidak terjadi hal-hal yang menyimpang.

Selamat menjalani ospek bagi adik-adik yang sedang/akan menjalaninya. Selamat bergabung di Civitas Akademika.

Categories: Informasi Umum | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: